Pada awal kemahilan, banyak perubahan fisik yang akan anda alami selama trimester pertama (tiga bulan pertama kehamilan). Periode ini merupakan periode tumbuh kembang yang cepat pada bayi. karena manfaat memeriksa kehamilan sangat besar, maka dianjurkan kepada ibu hamil untuk memeriksakan secara rutin di tempat pelayanan kesehatan terdekat. Namun di daerah pedesaan, kebanyakan ibu hamil masih mempercayai dukun beranak.
Masa kehamilan dibagi kedama 3 trimester. Tiga fase ini antara lain :
Trimester I (minggu 1-12)
Trimester II (minggu 13-28)
Trimester III (minggu 29-kelahiran)
Faktor-faktor yang mempengaruhi kehamilan terdiri dari 3 macam faktor antara lain :
1. Faktor fisik
Faktor fisik seorang ibu hamil dipengaruhi oleh status kesehatan dan status gizi ibu tersebut. Status kesehatan ini dapat diketahui dengan memeriksakan diri dan kehamilannya ke pelayanan kesehatan terdekat, puskesmas, rumah bersalin, atau poliklinik kebidanan.
2. Faktor psikologis
Faktor ini dapat mempengaruhi kehamilan seperti stress yang terjadi pada ibu hamil dalam kesehatan ibu dan janinnya dan akan berpengaruh terhadap perkembangan atau gangguan emosi pada janin yang telah lahir nanti.
tidak hanya stress yang dapat mempengaruhi kehamilan akan tetapi dukungan dari keluarga pun dapat menjadi pemicu menentukan kesehatan ibu. Jika seluruh keluarga mengharapkan kehamilan bahkan mendukungnya dalam berbagai hal, maka ibul hamil tersebut akan merasa lebih percaya diri, lebih bahagia dan siap dalam menjalani kehamilan, persalinan, dan masa nifasnya.
3. Faktor sosial budaya dan ekonomi
Faktor ini mempengaruhi kehamilan dari segi gaya hidup, adat istiadat, fasilitas kesehatan dan ekonomi. Gaya hidup yang sehat dapat dilakukan seperti menghindari asap rokok karena dapat berpengaruh terhadap janin yang dikandungnya. Perilaku makan juga harus diperhatikan, terutama yang berhubungan dengan adat istiadat seperti makanan yang dipantang adat padahal baik untuk gizi ibu hamil, maka sebaiknya tetap dikonsumsi. Ibu hamil juga harus menjaga kebersihan dirinya.
Ekonomi juga merupakan faktor yang mempengaruhi proses kehamilan yang sehat terhadap ibu dan janin. Dengan adanya ekonomi yang cukup dapat memeriksakan kehamilannya secara rutin, merencanakan persalinan di tenaga kesehatan dan melakukan persiapan lainnya dengan baik, maka proses kehamilan dan persalinan dapat berjalan dengan baik.
http://miamisland.blogspot.com/2010/03/aspek-sosial-budaya-pd-setiap.html
http://www.dunia-ibu.org/artikel/ibu-hamil/trimester-kehamilan.html
http://majalahkesehatan.com/tiga-trimester-kehamilan/
Minggu, 28 November 2010
ASPEK SOSIAL BUDAYA PADA SETIAP PERKAWINAN
Aspek sosial budaya sangat berpengaruh pada pola kehidupan manusia. Dalam ere globalisasi berbagai perubahan yang ekstrempada masa ini menuntut semua manusia lebih memperhatikan aspek sosial budaya. Salah satu masalah yang banyak merebak di kalangan masyarakat adalah kematian ataupun kesakitan pada ibu dan anak, yang sesungguhnya tidak terlepas dari faktor-faktor sosial budaya dan lingkungan di dalam masyarakat dimana mereka berada.
Fakta-fakta kepercayaan dan pengetahuan budaya seperti konsepsi - konsepsi mengenai berbagai pantangan, hubungan sebab - akibat antara makanan kondisi sehat - sakit, kebiasaan dan ketidaktahuan sering kali membawa dampak baik positif maupun negatif terhadap kesehatan ibu dan anak. Pola makan misalnya pasca dasarnya adalah merupakan salah satu selera manusia dimana peran kebudayaan cukup besar. Hal ini terlihat bahwa setiap daerah mempunyai pola makan tertentu, termasuk pola makan ibu hamil dan anak yang disertai dengan kepercayaan akan pantangan, tabu, dan anjuran terhadap beberapa makanan tertentu.
Salah satu contoh aspek sosial budaya perkawinan di provinsi Aceh
Perkawinan adalah sesuatu yang sangat sakral di dalam budaya masyarakat. Aceh sebab hal ini berhubungan dengan nilai - nilai keagamaan. Perkawinan pada masyarakat Aceh merupakan serangkaian aktivitas yang terdiri dari beberapa tahap, mulai dari pemilihan jodoh (suami/istri), pertunangan dan hingga upacara peresmian perkawinan.
Suatu kebiasaan bagi masyarakat Aceh, sebelum pesta perkawinan dilangsungkan terlebih dahulu tiga hari tiga malam diadakan upacara meugaca atau boh gaca (berinai) bagi penganti laki - laki dan penganti perempuan di rumahnya masing - masing. Tampak kedua belah tangan dan kaki pengantin dihiasi dengan inai.
Pada puncak peresmian perkawinan, maka diadakan acara pernikahan. Setelah selesai acara nilah, linto baro di bimbing ke pelaminan persandingan, di mana dara baro telah terlebih dahulu duduk menunggu. Sementara itu dara baro bangkit dari pelaminan untuk menyembah suaminya.
Penyembahan suami ini disebut dengan seumah teuot linto. Setelah dara baro teuot linto, maka linto baro memberikan sejumlah uang kepada dara baro yang disebut dengan pengseumemah (uang sembah).
Selama acara persandingan ini, kedua mempelai dibimbing oleh seorang nek peungajo. Biasanya yang menjadi peungajo adalah seorang wanita tua. Kemudian kedua mempelai itu diberikan makan dalam sebuah pingan meututop (piring adat) yang indah dan besar bentuknya. Selanjutnya kedua mempelai tadi di peusunteng (disunting) oleh sanak keluarga kedua belah pihak yang kemudian diikuti oleh para jiran ( tetangga). Keluarga pihak linto baro menyuntingi (peusijuk/ menepung tawri) dara baro dan keluarga pihak dara baro menyuntingi pula linto baro. Tiap - tiap orang menyuntingi selain menepung tawari dan melekatkan pulut kuning di telinga temanten, juga member sejumlah uang yang disebut
teumentuk. Acara peusuntengini lazimnya didahului oleh ibu linto baro, yang kemudian disusu oleh orang lain secara bergantian.
Apabila acara peusunteng sudah selesai, maka rombongan linto baro minta ijin untuk pulang ke rumahnya. Linto baro turut pula dibawa pulang. Ada kalanya pula linto baro tidak dibawa pulang, ia tidur di rumah dara baro, tetapi pada pagi - pagi benar linto baro sudah meninggalkan rumah dara baro.
karena malu menurut adat, bila linto baro masih di rumah dara baro sampai siang.
sumber
www.google.com
Fakta-fakta kepercayaan dan pengetahuan budaya seperti konsepsi - konsepsi mengenai berbagai pantangan, hubungan sebab - akibat antara makanan kondisi sehat - sakit, kebiasaan dan ketidaktahuan sering kali membawa dampak baik positif maupun negatif terhadap kesehatan ibu dan anak. Pola makan misalnya pasca dasarnya adalah merupakan salah satu selera manusia dimana peran kebudayaan cukup besar. Hal ini terlihat bahwa setiap daerah mempunyai pola makan tertentu, termasuk pola makan ibu hamil dan anak yang disertai dengan kepercayaan akan pantangan, tabu, dan anjuran terhadap beberapa makanan tertentu.
Salah satu contoh aspek sosial budaya perkawinan di provinsi Aceh
Perkawinan adalah sesuatu yang sangat sakral di dalam budaya masyarakat. Aceh sebab hal ini berhubungan dengan nilai - nilai keagamaan. Perkawinan pada masyarakat Aceh merupakan serangkaian aktivitas yang terdiri dari beberapa tahap, mulai dari pemilihan jodoh (suami/istri), pertunangan dan hingga upacara peresmian perkawinan.
Suatu kebiasaan bagi masyarakat Aceh, sebelum pesta perkawinan dilangsungkan terlebih dahulu tiga hari tiga malam diadakan upacara meugaca atau boh gaca (berinai) bagi penganti laki - laki dan penganti perempuan di rumahnya masing - masing. Tampak kedua belah tangan dan kaki pengantin dihiasi dengan inai.
Pada puncak peresmian perkawinan, maka diadakan acara pernikahan. Setelah selesai acara nilah, linto baro di bimbing ke pelaminan persandingan, di mana dara baro telah terlebih dahulu duduk menunggu. Sementara itu dara baro bangkit dari pelaminan untuk menyembah suaminya.
Penyembahan suami ini disebut dengan seumah teuot linto. Setelah dara baro teuot linto, maka linto baro memberikan sejumlah uang kepada dara baro yang disebut dengan pengseumemah (uang sembah).
Selama acara persandingan ini, kedua mempelai dibimbing oleh seorang nek peungajo. Biasanya yang menjadi peungajo adalah seorang wanita tua. Kemudian kedua mempelai itu diberikan makan dalam sebuah pingan meututop (piring adat) yang indah dan besar bentuknya. Selanjutnya kedua mempelai tadi di peusunteng (disunting) oleh sanak keluarga kedua belah pihak yang kemudian diikuti oleh para jiran ( tetangga). Keluarga pihak linto baro menyuntingi (peusijuk/ menepung tawri) dara baro dan keluarga pihak dara baro menyuntingi pula linto baro. Tiap - tiap orang menyuntingi selain menepung tawari dan melekatkan pulut kuning di telinga temanten, juga member sejumlah uang yang disebut
teumentuk. Acara peusuntengini lazimnya didahului oleh ibu linto baro, yang kemudian disusu oleh orang lain secara bergantian.
Apabila acara peusunteng sudah selesai, maka rombongan linto baro minta ijin untuk pulang ke rumahnya. Linto baro turut pula dibawa pulang. Ada kalanya pula linto baro tidak dibawa pulang, ia tidur di rumah dara baro, tetapi pada pagi - pagi benar linto baro sudah meninggalkan rumah dara baro.
karena malu menurut adat, bila linto baro masih di rumah dara baro sampai siang.
sumber
www.google.com
Tujuan Pembangunan Msyarakat Dalam Kesehatan
Tujuan pembangunan kesehatan Indonesia sehat 2010 adalah meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal melalui tercapainya masyarakat, bangsa dan negar indonesia yang ditandai oleh penduduknya yang hidup dlam lingkungan dan dengan perilaku hidup sehat serta memiliki kemampuanuntuk menjangkau pelayanan dan fasilitas kesehatan yang bermutu secara adil dan merata diseluruh republik indoneia dan bangsa yang mandiri maju dan sejahtera. Sejlan dengan tujuan pembangunanyang berwawasan kesehatan dan kesejahteraan maka pemerintahan telah menetapkan pola dasar pembangunan yaitu pembangunan mutu SDM diberbagai sektor serta masih menitik beratkan pada program2 pra-upaya kuratif dan rehabilitatif yang didukung oleh informasi kesehatan secara berkesinambung. sehingga dapat mewujudkan masyarakat yang berperilaku hidup sehat dan memiiki kemampuan untuk menolong dirinya sendiri serta dapat menjangkau pelayanan kesehatan yang berkualitas ditahun 2010. ( Wijono.1999)
Tujuan pembangunan Kesehatan yang dilakukan oleh dinas kesehatan dan berupaya untuk mewujudkan kesehatan tersebut diantara tujuan tesebut diantaranya untuk menjangkau jarak panjang pembangunan kesehatan diarahkan unuk tujuan utama sbb:
peningkatan status gizi
pengurangan kesakitan (morbiditas) dan kematian (mortalitas)
perbaikan mutu lingkungan hidup yang dapat menjamin kesehatan.
sumber : http://kadri.blogspot.com/2010/10/tujuan-pembangunan-kesehatan.html
http://tugaskuliah.info/2010/06/tujuan-pembangunan-kesehatan-indonesia html.
Tujuan pembangunan Kesehatan yang dilakukan oleh dinas kesehatan dan berupaya untuk mewujudkan kesehatan tersebut diantara tujuan tesebut diantaranya untuk menjangkau jarak panjang pembangunan kesehatan diarahkan unuk tujuan utama sbb:
peningkatan status gizi
pengurangan kesakitan (morbiditas) dan kematian (mortalitas)
perbaikan mutu lingkungan hidup yang dapat menjamin kesehatan.
sumber : http://kadri.blogspot.com/2010/10/tujuan-pembangunan-kesehatan.html
http://tugaskuliah.info/2010/06/tujuan-pembangunan-kesehatan-indonesia html.
Hubungan Aspek Sosial Terhadap Pembangunan Kesehatan
UU No.23,1992 tentang Kesehatan menyatakan bahwa: Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosialyang memungkinkan hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Dalam pengertian ini maka kesehatan harus dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh terdii dari unsur-unsur fisik, mental dan sosial dan didalamnya kesehatan jiwa merupakan bagian intergal kesehatan.
Kebiasaan masyarakat daerah pada masa-masa kehamilan :
Upacara Mengandung Empat Bulan
Upacara Mengandung Tujuh Bulan/Tingkeban
Upacara Reuneuh Mundingeun
Masyarakat seiring berkembangnya dengan kebudayaan nya. Indonesia merupakan Negara yang memiliki beraneka ragam kebudayaan. Kebudayaan yang berkembang di masyarakat memberikan pengaruh kepada kebiasaan masyarakat dibidang sosial, agama maupun kesehatan. kebudayaan bukan hanya merupakan sebuah kebiasaan adat yang berkembang pada suatu komunitas yang berkembang pada suatu komunitas masyarakat.
sumber referensi
Waskitho. pengembang sistem Kesehatan masyarakat Indonesia berbasis partisipasi seluruh era globalisasi.
http://crackbone .wordpress.com/2010/01/27/pengembang-sistem-menghadapi-era-globalisasi.
http://zipoer.wordprss.com/2009/09/05/upacara-adat-sunda.
Kebiasaan masyarakat daerah pada masa-masa kehamilan :
Upacara Mengandung Empat Bulan
Upacara Mengandung Tujuh Bulan/Tingkeban
Upacara Reuneuh Mundingeun
Masyarakat seiring berkembangnya dengan kebudayaan nya. Indonesia merupakan Negara yang memiliki beraneka ragam kebudayaan. Kebudayaan yang berkembang di masyarakat memberikan pengaruh kepada kebiasaan masyarakat dibidang sosial, agama maupun kesehatan. kebudayaan bukan hanya merupakan sebuah kebiasaan adat yang berkembang pada suatu komunitas yang berkembang pada suatu komunitas masyarakat.
sumber referensi
Waskitho. pengembang sistem Kesehatan masyarakat Indonesia berbasis partisipasi seluruh era globalisasi.
http://crackbone .wordpress.com/2010/01/27/pengembang-sistem-menghadapi-era-globalisasi.
http://zipoer.wordprss.com/2009/09/05/upacara-adat-sunda.
ASBD yang berhubungan dengan kesehatan ibu
Berdasarkan UU No 23 tahun 1992 tentang kesehatan, kesehatan ibu daan anak adalah pelayanan kesehatan ibu dan anak yang meliputi pelayanan ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, keluarga berencana, kesehatan reproduksi, pemeriksaan bayi, anak balita dan presekolah sehat.
Pada angka kematian ibu (AKI) menurut SUrvei Demografi Kesehatan Indonesia ( SDKI) 1994 masih cukup tinggi, yaitu 390 per 100.000 kelahiran. Penyebab kematian ibu terbesar (58,1%) adalah pendarahan dan eklamsia.kedua sebab itu sebenarnya dapat dicegah dengan pemerikaaan kehamilan (antenatal care/ANC) yang memadai.
Perawatan kehamilan merupakan salah satu faktor yang amat perlu diperhatikan untuk mencegah terjadinya komplikasi dan kematian ketiak persalinan, disamping itu juga untuk menjaga pertumbuhan dan kesehatan janin. Memahami perilaku perawatan kehamilan (antenatal care) adalah enting untuk mengetahui dampak kesehatan bayi dan si ibu sendiri.
Adapun penyebab kematian ibu yaitu :
pendarahan
hipertensi
infeksi
alasan menurunya angka kematian ibu
transfusi darah
anti mikroba
pemeliharaan cairan elektrolit, keimbangan asam-basa pada komplikasi-komplikasi serius kehamilan dan persalinan.
sumber referensi :
Cental Bereau of Statistic et al1995 Indonesia DemograQhic and Healty Survey dll
Pada angka kematian ibu (AKI) menurut SUrvei Demografi Kesehatan Indonesia ( SDKI) 1994 masih cukup tinggi, yaitu 390 per 100.000 kelahiran. Penyebab kematian ibu terbesar (58,1%) adalah pendarahan dan eklamsia.kedua sebab itu sebenarnya dapat dicegah dengan pemerikaaan kehamilan (antenatal care/ANC) yang memadai.
Perawatan kehamilan merupakan salah satu faktor yang amat perlu diperhatikan untuk mencegah terjadinya komplikasi dan kematian ketiak persalinan, disamping itu juga untuk menjaga pertumbuhan dan kesehatan janin. Memahami perilaku perawatan kehamilan (antenatal care) adalah enting untuk mengetahui dampak kesehatan bayi dan si ibu sendiri.
Adapun penyebab kematian ibu yaitu :
pendarahan
hipertensi
infeksi
alasan menurunya angka kematian ibu
transfusi darah
anti mikroba
pemeliharaan cairan elektrolit, keimbangan asam-basa pada komplikasi-komplikasi serius kehamilan dan persalinan.
sumber referensi :
Cental Bereau of Statistic et al1995 Indonesia DemograQhic and Healty Survey dll
ASBD yang berhubungan dengan kesehatan anak
aspek sosial budaya yang berhuungan dengan kesehatan anak. pada zaman sekarang ini perkembangan tekhnologi di Indonesia tentang dunia medis kian canggih. Meski demikian, secanggih apapun tekhnologi yang berkembang tidak menghilangkan sejumlah mitos yang pernah ada dan diyakini banyak orang . bahkan banyak orang duku yang lebih mempercayai pendahuluna ketimbang nasehat dari seorang dokter. sehingga kesehatan anak menjadi sesuatu hal yang sangat membuming pada saat-saat ini.
Adapun ciri mitos yang berkembang dmasyarakat :
Jika rambut anak anda basah maka anak anda akan masuk angin. faktanya, pakar kesehatan jims scars mengatakan bahwa dari riset yang beliau lakukan di Inggris, dimana setengah kelompok anak dibiarkan dalam ruangan yang hangat sedangkan sisanya berada di lorong dengan kondisi basah kuyup. setelah beberapa jam, kelompok yang berada di dalam lorong tidak mengalami pilek atau flu. "kedinginan belum tentu mempengaruhi sistem kekebalan secara langsung" dan sedangkan
Ciri mitos tentang vitamin sangat diperlukan agar tak salah langkah yaitu :
Vitamin yang membuat anak cerdas. pada dasarnya vitamin memang bisa membuat anak menjadi cerdas, namun tetapi prosesnya tentu saja tidak langsung. Cerdas itu terjadi karena anak mengalami perkembangan. misalnya cepat bicara , berjalan , bermain dan lainnya.
sumber referensi : http://tabloidnova.com/Nova/Kesehatan/Anak/Mitos-Mitos-Tentang-Vitamin
http://www.google.com/ blog-eblog.blogspot.com/2010/09/12
Adapun ciri mitos yang berkembang dmasyarakat :
Jika rambut anak anda basah maka anak anda akan masuk angin. faktanya, pakar kesehatan jims scars mengatakan bahwa dari riset yang beliau lakukan di Inggris, dimana setengah kelompok anak dibiarkan dalam ruangan yang hangat sedangkan sisanya berada di lorong dengan kondisi basah kuyup. setelah beberapa jam, kelompok yang berada di dalam lorong tidak mengalami pilek atau flu. "kedinginan belum tentu mempengaruhi sistem kekebalan secara langsung" dan sedangkan
Ciri mitos tentang vitamin sangat diperlukan agar tak salah langkah yaitu :
Vitamin yang membuat anak cerdas. pada dasarnya vitamin memang bisa membuat anak menjadi cerdas, namun tetapi prosesnya tentu saja tidak langsung. Cerdas itu terjadi karena anak mengalami perkembangan. misalnya cepat bicara , berjalan , bermain dan lainnya.
sumber referensi : http://tabloidnova.com/Nova/Kesehatan/Anak/Mitos-Mitos-Tentang-Vitamin
http://www.google.com/ blog-eblog.blogspot.com/2010/09/12
masyarakat desa dengan kota
Masyarakat adalah suatu perwujudan kehidupan bersama bagi manusia . Dalam masyarakat berlangsung proses kehidupan sosial, proses antar hubungan dan antar aksi .Di dalam masyarakat sebagai suatu lembaga kehidupan manusia, dapat berlangsung pula keseluruhan proses perkembangan kehidupan . Dengan demikian masyarakat dapat diartikan sebagai wadah atau medan tempat berlangsungnya antar aksi warga masyarakat itu . Tetapi masyarakat juga dapat diartikan sebagai perwujudan warga masyarakat dengan semua sifat (watak) dalam suatu gejala dan manisfestasi tertentu atau keseluruhan, sosio-psikologisnya .
Berikut adalah fenomena masyarakat kota dengan desa yang hampir tejadi di sekitar kita saat ini .
A. Definisi Masyarakat
2. masyarakat Perkotaan
Ada beberapa ciri yang menonjol pada masyarakat perkotaan, yaitu :
a. Kehidupan keagamaannya berkurang, kadangkala tidak terlalu dipikirkan karena memang kehidupan yang cenderung kearah keduniaan saja.
b. Orang kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus berdantung pada orang lain (Individualisme).
c. Pembagian kerja diantara warga-warga kota juga lebih tegas dan mempunyai batas-batas yang nyata.
d. Kemungkinan-kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan juga lebih banyak diperoleh warga kota.
e. Jalan kehidupan yang cepat dikota-kota, mengakibatkan pentingnya faktor waktu bagi warga kota, sehingga pembagian waktu yang teliti sangat penting, intuk dapat mengejar kebutuhan-kebutuhan seorang individu.
f. Perubahan-perubahan tampak nyata dikota-kota, sebab kota-kota biasanya terbuka dalam menerima pengaruh-pengaruh dari luar
3. Perbedaan antara pedesaan dan perkotaan
Dalam masyarakat modern, sering dibedakan antara masyarakat pedesaan (rural community) dan masyarakat perkotaan (urban community). Menurut Soekanto (1994), perbedaan tersebut sebenarnya tidak mempunyai hubungan dengan pengertian masyarakat sederhana, karena dalam masyarakat modern, betapa pun kecilnya suatu desa, pasti ada pengaruh-pengaruh dari kota. Perbedaan masyarakat pedesaan dan masyarakat perkotaan, pada hakekatnya bersifat gradual.
Kita dapat membedakan antara masyarakat pedesaan dan masyarakat perkotaan yang masing-masing punya karakteristik tersendiri. Masing-masing punya sistem yang mandiri, dengan fungsi-fungsi sosial, struktur serta proses-proses sosial yang sangat
Masyarakat Pedesaan :
- Perilaku homogen
- Perilaku yang dilandasi oleh konsep kekeluargaan dan kebersamaan
- Perilaku yang berorientasi pada tradisi dan status
- Isolasi sosial, sehingga statik
- Kesatuan dan keutuhan kultural
- Banyak ritual dan nilai-nilai sakral
- Kolektivisme
b. Hubungan masyarakat pedesaan dan perkotaan.
Sumber referensi: http://dibalue.blogspot.com/2010/10/fenomena-masyarakat-desa-dan-masyarakat.html & http://www.slideshare.net/robiyanto/makala-masyarakat-desa-dan-kota .
Berikut adalah fenomena masyarakat kota dengan desa yang hampir tejadi di sekitar kita saat ini .
A. Definisi Masyarakat
Dalam Bahasa Inggris masyarakat disebut Society, asal katanya Socius yang berarti “kawan”. Kata “Masyarakat” berasal dari bahasa Arab, yaitu Syiek, artinya “bergaul”. Adanya saling bergaul ini tentu karena ada bentuk – bentuk hubungan hidup, yang bukan disebabkan oleh manusia sebagai pribadi melainkan oleh unsur – unsur kekuatan lain dalam lingkungan sosial yang merupakan satu kesatuan.
Ciri-ciri masyarakat kota dengan desa :
1. Masyarakat pedesaan
Dalam buku Sosiologi karangan Ruman Sumadilaga seorang ahli Sosiologi “Talcot Parsons” menggambarkan masyarakat desa sebagai masyarakat tradisional (Gemeinschaft) yang mengenal ciri-ciri sebagai berikut :
a. Afektifitas ada hubungannya dengan perasaan kasih sayang, cinta , kesetiaan dan kemesraan. Perwujudannya dalam sikap dan perbuatan tolong menolong, menyatakan simpati terhadap musibah yang diderita orang lain dan menolongnya tanpa pamrih.
b. Orientasi kolektif sifat ini merupakan konsekuensi dari Afektifitas, yaitu mereka mementingkan kebersamaan , tidak suka menonjolkan diri, tidak suka akan orang yang berbeda pendapat, intinya semua harus memperlihatkan keseragaman persamaan.
c. Partikularisme pada dasarnya adalah semua hal yang ada hubungannya dengan keberlakuan khusus untuk suatu tempat atau daerah tertentu. Perasaan subyektif, perasaan kebersamaan sesungguhnya yang hanya berlaku untuk kelompok tertentu saja.(lawannya Universalisme)
d. Askripsi yaitu berhubungan dengan mutu atau sifat khusus yang tidak diperoleh berdasarkan suatu usaha yang tidak disengaja, tetapi merupakan suatu keadaan yang sudah merupakan kebiasaan atau keturunan.(lawanya prestasi).
e. Kekabaran (diffuseness). Sesuatu yang tidak jelas terutama dalam hubungan antara pribadi tanpa ketegasan yang dinyatakan eksplisit. Masyarakat desa menggunakan bahasa tidak langsung, untuk menunjukkan sesuatu.
a. Afektifitas ada hubungannya dengan perasaan kasih sayang, cinta , kesetiaan dan kemesraan. Perwujudannya dalam sikap dan perbuatan tolong menolong, menyatakan simpati terhadap musibah yang diderita orang lain dan menolongnya tanpa pamrih.
b. Orientasi kolektif sifat ini merupakan konsekuensi dari Afektifitas, yaitu mereka mementingkan kebersamaan , tidak suka menonjolkan diri, tidak suka akan orang yang berbeda pendapat, intinya semua harus memperlihatkan keseragaman persamaan.
c. Partikularisme pada dasarnya adalah semua hal yang ada hubungannya dengan keberlakuan khusus untuk suatu tempat atau daerah tertentu. Perasaan subyektif, perasaan kebersamaan sesungguhnya yang hanya berlaku untuk kelompok tertentu saja.(lawannya Universalisme)
d. Askripsi yaitu berhubungan dengan mutu atau sifat khusus yang tidak diperoleh berdasarkan suatu usaha yang tidak disengaja, tetapi merupakan suatu keadaan yang sudah merupakan kebiasaan atau keturunan.(lawanya prestasi).
e. Kekabaran (diffuseness). Sesuatu yang tidak jelas terutama dalam hubungan antara pribadi tanpa ketegasan yang dinyatakan eksplisit. Masyarakat desa menggunakan bahasa tidak langsung, untuk menunjukkan sesuatu.
Ada beberapa ciri yang menonjol pada masyarakat perkotaan, yaitu :
a. Kehidupan keagamaannya berkurang, kadangkala tidak terlalu dipikirkan karena memang kehidupan yang cenderung kearah keduniaan saja.
b. Orang kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus berdantung pada orang lain (Individualisme).
c. Pembagian kerja diantara warga-warga kota juga lebih tegas dan mempunyai batas-batas yang nyata.
d. Kemungkinan-kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan juga lebih banyak diperoleh warga kota.
e. Jalan kehidupan yang cepat dikota-kota, mengakibatkan pentingnya faktor waktu bagi warga kota, sehingga pembagian waktu yang teliti sangat penting, intuk dapat mengejar kebutuhan-kebutuhan seorang individu.
f. Perubahan-perubahan tampak nyata dikota-kota, sebab kota-kota biasanya terbuka dalam menerima pengaruh-pengaruh dari luar
Dalam masyarakat modern, sering dibedakan antara masyarakat pedesaan (rural community) dan masyarakat perkotaan (urban community). Menurut Soekanto (1994), perbedaan tersebut sebenarnya tidak mempunyai hubungan dengan pengertian masyarakat sederhana, karena dalam masyarakat modern, betapa pun kecilnya suatu desa, pasti ada pengaruh-pengaruh dari kota. Perbedaan masyarakat pedesaan dan masyarakat perkotaan, pada hakekatnya bersifat gradual.
Kita dapat membedakan antara masyarakat pedesaan dan masyarakat perkotaan yang masing-masing punya karakteristik tersendiri. Masing-masing punya sistem yang mandiri, dengan fungsi-fungsi sosial, struktur serta proses-proses sosial yang sangat
Berbeda, bahkan kadang-kadang dikatakan “berlawanan” pula. Perbedaan ciri antara kedua sistem tersebut dapat diungkapkan secara singkat menurut Poplin (1972) sebagai berikut:
Masyarakat Pedesaan :
- Perilaku homogen
- Perilaku yang dilandasi oleh konsep kekeluargaan dan kebersamaan
- Perilaku yang berorientasi pada tradisi dan status
- Isolasi sosial, sehingga statik
- Kesatuan dan keutuhan kultural
- Banyak ritual dan nilai-nilai sakral
- Kolektivisme
sedangkan
Masyarakat perkotaan :
- Perilaku heterogen
- Perilaku yang dilandasi oleh konsep pengandalan diri dan kelembagaan
- Perilaku yang berorientasi pada rasionalitas dan fungsi
- Mobilitas sosial, sehingga dinamik
- Kebauran dan diversifikasi kultural
- Birokrasi fungsional dan nilai-nilai sekular
-Individualisme
- Perilaku heterogen
- Perilaku yang dilandasi oleh konsep pengandalan diri dan kelembagaan
- Perilaku yang berorientasi pada rasionalitas dan fungsi
- Mobilitas sosial, sehingga dinamik
- Kebauran dan diversifikasi kultural
- Birokrasi fungsional dan nilai-nilai sekular
-Individualisme
Pada dasarnya masyarakat pedesaan dan perkotaan bukanlah dua komonitas yang terpisah sama sekali satu sama lain. Bahkan dalam keadaan yang wajar diantara keduanya terdapat hubungan yang erat. Bersifat ketergantungan, karena diantara mereka saling membutuhkan. Kota tergantung pada dalam memenuhi kebutuhan warganya akan bahan bahan pangan seperti beras sayur mayur , daging dan ikan. Desa juga merupakan sumber tenaga kasar bagi bagi jenis jenis pekerjaan tertentu dikota. Misalnya saja buruh bangunan dalam proyek proyek perumahan. Proyek pembangunan atau perbaikan jalan raya atau jembatan dan tukang becak. Mereka ini biasanya adalah pekerja pekerja musiman. Pada saat musim tanaman mereka, sibuk bekerja di sawah. Bila pekerjaan dibidang pertanian mulai menyurut, sementara menunggu masa panen mereka merantau ke kota terdekat untuk melakukan pekerjaan apa saja yang tersedia.
Hubungan kota-desa cenderung terjadi secara alami yaitu yang kuat akan menang, karena itu dalam hubungan desa dan kota, makin besar suatu kota makin berpengaruh dan makin menentukan kehidupan perdesaan.
Terlepas dari penjelasan yang ada tentang masyarakat perkotaan dan pedesaan telah terjadi kesenjangan sosial antara masyarakat pedesaan dan perkotaan. Contohnya adalah di daerah Yogyakarta. Semakin banyaknya penduduk yang berbeda penghasilan ini membuat kesenjangan sosial begitu memprihatinkan. Yang kaya menjadi tambah kaya dan yang berada dalam garis kemiskinan tetap makin terperosok dengan kemiskinan meski sudah berusaha memperoleh penghidupan yang layak. Sesuai dengan UUD 1945 pasal 34 disana tertulis “Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara”. Hal ini berbanding terbalik dengan apa yang terjadi dinegara kita.
Terlepas dari penjelasan yang ada tentang masyarakat perkotaan dan pedesaan telah terjadi kesenjangan sosial antara masyarakat pedesaan dan perkotaan. Contohnya adalah di daerah Yogyakarta. Semakin banyaknya penduduk yang berbeda penghasilan ini membuat kesenjangan sosial begitu memprihatinkan. Yang kaya menjadi tambah kaya dan yang berada dalam garis kemiskinan tetap makin terperosok dengan kemiskinan meski sudah berusaha memperoleh penghidupan yang layak. Sesuai dengan UUD 1945 pasal 34 disana tertulis “Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara”. Hal ini berbanding terbalik dengan apa yang terjadi dinegara kita.
Semakin tahun bertambahnya usia kemerdekaan kita, nampaknya jumlah kemiskinan semakin meningkat dan bertambah dengan diiringi lapangan kerja yang tak dapat membendung tenaga kerja siap pakai yang ada di daerah Yogyakarta. Lapangan pekerjaan yang tersedia juga tidak dapat membantu masyarakat untuk memperoleh penghidupan yang layak. Adalah pendidikan yang menjadi masalah utama masyarakat Yogyakarta untuk mendapatkan pekerjaan yang baik tentunya dengan penghasilan yang baik pula. Kebanyakan masyarakat pedesaan di Yogyakarta adalah petani, sedangkan di perkotaan cenderung dengan bekerja sebagai pegawai. Tetapi, walaupun masyarakat pedesaan di Yogyakarta sebagian besar adalah petani dan tidak mempunyai penghasilan yang tetap mereka masih bisa memenuhi kebutuhan mereka dengan pas-pasan. Lain halnya dengan perkotaan, walaupun masyarakat perkotaan adalah pegawai, tetapi masyarakat perkotaan cenderung dengan pemecatan dan kerja dengan menggunakan alat seperti mesin. Memang hal ini merupakan kesenjangan sosial teramat jauh untuk masyarakat pedesaan dan perkotaan jika dilihat dari penghasilan, belum lagi dengan pendidikan. Data BPS pada tahun 2009 menunjukkan jumlah penduduk miskin di perkotaan dan pedesaan menunjukkan hal yang relatif berbeda. Ternyata masyarakat perkotaan di Yogyakarta memiliki jumlah masyarakat miskin yang lebih banyak dari pedesaan.
Langganan:
Postingan (Atom)